Tebo (SN) Bak kata pepatah, tikus mati dilumbung padi, itulah yang hampir dialami oleh Harahap dan seluruh keluarganya yang berjumlah 18 orang, iming iming kerja bagus, ancak bagus dengan penghasilan 600 tandan sawit perhari, Harahap dan keluarganya nekat merantau Dari Sibolga menuju Kabupaten Tebo untuk bekerja sebagai pemanen di PT. Tebo Alam Lestari yang diberada didesa Semambu Kecamatan Sumay.
Komoditas Sawit memang menjadi primadona pekerjaan saat ini, walau hanya ditawarkan sebagai pemanen Harahap tergiur dengan janji manis ancak sawit yang akan dia panen, 600 tandan perhari dikali Rp. 1.500 pertandan jika dikali satu bulan hasilnya tentu sangat menggiurkan, Rp. 27.000.000., selain itu Harahap juga di janjikan rumah yang layak dengan penerangan Listrik, kontrak kerja BPJS, kebun yang tidak semak dan datar.
Sistem Tebus
Sebelumnya Harahap telah kerja di salah satu perusahaan perkebunan yang ada di Dumai, akan tetapi karena iming iming penghasilan yang lebih tinggi dari Jega dan Ginting ( Manager Kebun PT. TAL ) Harahap akhirnya mau berangkat ke desa Semambu untuk bekerja di PT. TAL, akan tetapi Harahap meminta agar dia ditebus dari perusahaan lamanya dengan nilai Rp 18.000.000, sebagaimana yang ia sampaikan pada media ini pada Sabtu 14/2 ” kami memang ditebus oleh Ginting, karena di perusahaan lama kami punya utang sebesar 18 juta, dan saya berjanji akan membayar tebusan tersebut, tapi bagaimana mau bayar hutang untuk makan saja gak dapat” ujar Harahap
Lebih lanjut Harahap menyampaikan bahwa
“Dalam satu bulan ( Januari/ Februari ) kami sudah bekerja pak, bahkan sawit yang kami panen jumlahnya lebih kurang 624 Tandan, karena ancak yang kami panen tak sesuai dengan apa yang dijanjikan kepada kami sebelumnya, hanya bisa mendapatkan 12 tandan dalam lima petak, lebih kurang 6 Ha. tapi gaji yang kami terima hanya Rp 1.049.000, dan anehnya mertua saya juga mendapat gaji lebih kurang sama dengan saya, sementara panen yang ia dapat lebih dari 1000 tandan, dengan hasil seperti ini bagaimana kami bisa membayar tebusan, sementara hutang buat kebutuhan makan saja sudah mencapai Rp. 5.000.000, jadi kami bekerja hanya untuk bayar hutang itupun tidak mencukupi” ungkap Harahap.
Janji tak sesuai harapan
Harahap sangat kecewa dengan keadaan yang dia terima saat ini, apa yang dijanjikan tidak dia dapatkan di PT. TAL, Panen 600 tandan sehari, kontrak kerja, gaji 1500 pertandan, layanan Kesehatan ( BPJS ) dan rumah yang layak, bahkan ia mengatakan bahwa dia dan sekeleuarga hampir mati karena kelaparan, mertuanya mengalami lumpuh tidak bisa bergerak dan harus dibawa ke bidan desa pakai angkong, “tidak ada pihak perusahaan yang melihat kami pak, semua bungkam, tidak ada fasilitas kesehatan di Kebun ini, kami harus berjalan lebih kurang 10 KM untuk mendapatkan layanan dari bidan desa dan bahkan kami hampir mati karena mengkonsumsi ubi setiap hari’ ujar Harahap sambil menangis.
Harahap akhirnya mendapatkan bantuan dari warga desa dan Pengurus Koperasi, dan akhirnya dievakuasi keluar kebun hingga berita ini diturunkan Harahap dan keluarganya masih tinggal dirumah warga didesa Semambu. Harahap berharap pihak perusahaan memenuhi janjinya, apalagi dia merasa tidak meminta pekerjaan kepada pihak perusahaan akan tetapi dijanjikan oleh pihak perusahaan melalui Ginting selalu Manajer PT. TAL. ” Saya ini diminta oleh perusahaan untuk bekerja, dan saya bekerja untuk mendapatkan upah bukan untuk cari Hutang” tutup Harahap. ( Adl )

Tinggalkan Balasan